PEMULUNG... Lama sekali kau tak ku sentuh. Sabarlah... suatu saat nanti, aku pasti akan ceritakan semua kisah ini padamu. Sekarang aku sedang sibuk, lebih tepatnya sedang sulit. Pikiranku tak bisa fokus. Aku masih ingin menikmati masa-masa sulit ini. Do'akan saja, semua ini berahir bahagia, agar kau tak kecewa saat ku ceritakan padamu kelak. Do'akanlah...
PEMULUNG
gerobak berbagai sisi kehidupanku, dia dan mungkin juga kamu. ku ambil dari kertas lapuk yang nyaris dilupakan orang.
Kamis, 11 Agustus 2016
Ouh... PEMULUNGKU
PEMULUNG... Lama sekali kau tak ku sentuh. Sabarlah... suatu saat nanti, aku pasti akan ceritakan semua kisah ini padamu. Sekarang aku sedang sibuk, lebih tepatnya sedang sulit. Pikiranku tak bisa fokus. Aku masih ingin menikmati masa-masa sulit ini. Do'akan saja, semua ini berahir bahagia, agar kau tak kecewa saat ku ceritakan padamu kelak. Do'akanlah...
Rabu, 11 September 2013
PAK JAKFAR
Bertemu dengan ‘orang besar’
memang kesukaan saya. Karena sekalipun
tidak sampai bercakap-cakap, melihat mereka saja sudah mampu memberikan
sentuhan motivasi tersendiri, lebih-lebih mereka yang tak pernah saya dengar ‘bermasalah’.
Orang besar yang saya maksud di atas, bukan berarti hanya pejabat negara. Namun
mereka adalah orang-orang yang menurut pendapat saya, dapat dijadikan referensi
dalam berbagai sisi kehidupan; mulai pendidikannya, kesuksesan ekonominya, sampai
pun kesuksesan dalam menerima kekurangan. Oleh sebab itu, setiap kali bertemu
dengan mereka, saya selalu meminta mereka bercerita, tentang segala hal yang
mereka lakukan sebelum akhirnya mereka mampu mencapai posisi yang saya kagumi
itu.
Kamis, 22 Agustus 2013
PELAJARAN DI MALAM JUM'AT
Semalam, seorang kawan tua bertanya, serius dan agak introgatif;
"pean betul 'suka' padanya?" tanyanya.
setelah menarik nafas agak dalam, aku mencoba mencari susunan kalimat yang sekiranya mampu ia pahami tanpa harus mengerutkan dahi, dan terutama yang mampu membuatnya berhenti mengintrogasi, karena seingatku, ini sudah pertanyaan ke 5. lalu ku jawab dengan pertanyaan balik;
"jika tidak saya suka, bagaimana mungkin saya berencana menikahinya?" kataku seraya membalas tatapannya.
"tak pernah ku dengar sebelumnya, kalau pean sudah bertunangan. sy yakin, pasti ikatan itu sudah berlangsung sejak lama, tapi pean tertutup. hasil paketan orang tua ya?" mendengar pertanyaan yang lebih menohok ini, aku terdiam, "maksa bgt sih..." gumamku. dan kemudian ku hadapkan diriku padanya, mencoba menseriusi menjawab setiap pertanyaan yang sebetulnya tak soal baginya.
"betul, dia paketan; tapi paket eksklusif"
sang kawan terdiam sejenak, lalu bicara lagi...
"alhamdulillah", katanya dengan nada yang dalam, lalu ia melanjutkan, "Dalam keadaan pean sekarang, pean sedang dihadapkan dalam dilema yang tak pernah berujung; memilih kata hati sendiri atau 'patuh' pada orang tua. satu pesanku, karena pean bukanlah orang awam, maka jalani saja kehendak ortu pean. tentang cinta sejati, sebenarnya telah banyak yang membuktikannya, bahwa ia seringkali datang, justru setelah mahligai keluarga terbangun..."
"Amin..." jawabku singkat.
"pean betul 'suka' padanya?" tanyanya.
setelah menarik nafas agak dalam, aku mencoba mencari susunan kalimat yang sekiranya mampu ia pahami tanpa harus mengerutkan dahi, dan terutama yang mampu membuatnya berhenti mengintrogasi, karena seingatku, ini sudah pertanyaan ke 5. lalu ku jawab dengan pertanyaan balik;
"jika tidak saya suka, bagaimana mungkin saya berencana menikahinya?" kataku seraya membalas tatapannya.
"tak pernah ku dengar sebelumnya, kalau pean sudah bertunangan. sy yakin, pasti ikatan itu sudah berlangsung sejak lama, tapi pean tertutup. hasil paketan orang tua ya?" mendengar pertanyaan yang lebih menohok ini, aku terdiam, "maksa bgt sih..." gumamku. dan kemudian ku hadapkan diriku padanya, mencoba menseriusi menjawab setiap pertanyaan yang sebetulnya tak soal baginya.
"betul, dia paketan; tapi paket eksklusif"
sang kawan terdiam sejenak, lalu bicara lagi...
"alhamdulillah", katanya dengan nada yang dalam, lalu ia melanjutkan, "Dalam keadaan pean sekarang, pean sedang dihadapkan dalam dilema yang tak pernah berujung; memilih kata hati sendiri atau 'patuh' pada orang tua. satu pesanku, karena pean bukanlah orang awam, maka jalani saja kehendak ortu pean. tentang cinta sejati, sebenarnya telah banyak yang membuktikannya, bahwa ia seringkali datang, justru setelah mahligai keluarga terbangun..."
"Amin..." jawabku singkat.
Jumat, 02 Agustus 2013
INSPIRASI; Press Release
Ada
jargon orang kebanyakan, kalau berkumpul bersama minyak maka akan ketiban
harumnya. Sebaliknya, jika berkumpul dengan tukang kuras WC maka akan ketiban
baunya. Setidaknya jargon itu yang muncul di benak, ketika pada hari sabtu (30
Maret 2013) kemarin, saya mendapat kesempatan duduk satu ruang dengan orang
besar, pejabat negara, yakni wakil ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
(MKRI) aktif, Prof. Dr. Ahmad Sodiki.
Kamis, 17 Januari 2013
JADILAH 'ORANG GILA!!! MAKA KAU AKAN SEHAT**
Hidup sendiri, jarang mandi, tertawa tanpa sebab, rambut
gimbal tak tersisir, badan kotor penuh debu. Itulah gambaran kita tentang ‘orang
gila’, dalam benak orang ‘waras’ secara umum, ‘orang gila’ tak ada tempat. Mereka
termarjinalkan, dijauhi bahkan sekali-kali dibenci. Kata mereka, ‘orang gila’
itu kumuh, kotor, seram dan menakutkan!.
Langganan:
Postingan (Atom)
