SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Rabu, 02 November 2011

SEMANGAT KERJA Vs TAKDIR

ketika saya berkunjung ke suatu daerah yang notabene penduduknya belum begitu “mengenal” agama, saya merasa ada yang salah ketika melihat sebagian banyak penduduknya saat adzan maghrib dikumandankan di masjid kampung masih tetap larut dalam pekerjaan “dunianya” masing-masing tanpa sedikitpun memperhatikan suara adzan, mereka berjibaku jumpalitan dengan kesibukannya masing-masing. Bahkan tak jarang di beberapa sawah masih terlihat petani-petani tebu yang sibuk dengan tebunya, warung-warung juga banyak dipenuhi penduduk yang tak jarang mereka hanya sekedar minum kopi, masih dengan pakaian kerjanya. Pemuda-pemudanyapun tidak mau kalah pada yang tua-tua, mereka yang tidak punya kesibukan banyak ditemui di pinggir-pinggir jalan, nongkrong entah sejak kapan dan sampai kapan mereka
bercengkrama satu dengan yang lainnya seakan tak pernah kekurangan topik pembicaraan. Saya tidak tahu pasti, apakah kesibukan seperti ini hanya berlaku ketika maghrib saja, atau mungkin bahkan mereka sudah tak lagi mengingat waktu ibadah lima waktunya.
Ada prinsip tersendiri bagi mereka yang larut dalam pekerjaan “dunianya” masing-masing, semangat bisa mengalahkan semuanya, bahkan takdir. Mereka yakin bahwa kalau ingin “kaya” maka semangat kerja haruslah ditingkatkan. Prinsip itu senantiasa mereka pegang walau tak sepenuhnya terbukti. Bahkan banyak di antara mereka yang masih berada di kategori butuh bantuan. Tapi kadung prinsip itu sudah turun-temurun, sekalipun belum terbukti ya mereka pegang saja.
Kondisi seperti di atas mungkin tidak hanya terjadi di daerah yang saya rahasiakan di atas, pembaca mungkin juga pernah menemui sekelompok orang yang juga menganut prinsip hidup di atas, bahkan mungkin diri kita sendiri pernah memegangnya.
Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan hubungan antara semangat kerja dan takdir. Mungkinkah semangat yang tinggi dapat mempengaruhi takdir kita?
Apa itu semangat?
Nabi Muhammad memang menganjurkan agar kita ketika melakukan aktifitas keduniaan berfikiran seakan-akan hidup selama-lamanya dan ketika sedang beribadah berfikiran akan mati besok. “Seakan-akan bisa hidup selamanya” di sini bukan berarti aktifitas keduniaan kita harus mengalahkan ibadah. Dengan dua perbandingan di atas Nabi ingin menyampaikan kepada kita betapa perlunya bekerja dengan didasari pada profesionalisme, professional waktunya juga professional kerjanya. Ketika sampai pada jam kerja silahkan bekerja sesemangat mungkin tapi diingat bahwa kita juga memiliki jam wajib menghadap Tuhan. Jadi semangat kerja dalam islam tak lebih dari arti profesionalitas, islam sangat mengagungkan penganutnya yang mau bekerja secara professional.
رحم الله امرأ إذا عمل عملا فأتقنه
Allah senang melihat orang yang rapi dalam pekerjaannya.
Hadits ini menegaskan kepada kita betapa sangat dianjurkan bekerja secara profesional, islam tidak suka melihat penganutnya bekerja asal-asalan. Ini juga yang harus dipatri di jiwa kita bahwa yang dimaksud semangat bekerja itu adalah profesionalisme, sekali lagi profesional dalam kerjanya juga profesional dalam menejerial waktunya. Petani yang prosfesional akan bekerja secara rapi dan terarah pun ketika sampai pada waktu istirahat akan meletakkan pekerjaannya, pedagang yang profesional akan menggunakan cara-cara positif dan terarah dalam perdagangannya pun ketika sampai waktu istirahat mereka akan meletakkan dagangannya. Itulah apa yang dimaksud semangat dalam islam. Wallahu a’lam bis showab.
Mungkinkah semangat kerja merubah takdir?
Dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan ungkapan mutiara sdari Ibn ‘Athoillah dalam Hikamnya,
سَوَاِبقُ الْهِمَمِ لاَ تَحْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ
Artinya : kekuatan semangat (azam, cita-cita dan ikhtiar) tidak akan mempengaruhi benteng takdir (Ibn. ‘Athoillah, Syarh al- Ahkam)
Sekuat apapun usaha manusia sama sekali tidak akan mempengaruhi takdir yang telah digariskan, apabila Allah sudah menentukan takaran rejekinya hari ini seratus maka itu tidak akan bekurang apalagi bertambah. Manusia hanya dapat berusaha, selebihnya Allahlah yang akan menentukan ahirnya.
Telah banyak yang dapat kita jadikan contoh di sekeliling kita, bahkan kita sendiri, yang bekerja sudah pontang panting peras keringat tapi tetap saja tak ada bedanya dengan kondisi kita sebelumnya. Ketika kita sedang mendapat penghasilan banyak ada saja kendala untuk tidak mengizinkan kita menabung.
Bahkan terkadang keinginan kita seringkali dikalahkan kekuatan fisik, ketika kita sedang untung justru fisik kita melemah, ketika kita memiliki semangat untuk memulai pekerjaan yang menurut kita bisa membawa hasil yang banyak justru fisik kita yang tidak bisa kompromi, sakit.
Oleh karena itu, akan lebih menguntungkan pada diri kita apabila dalam bekerja selalu diniati ibadah. Ini akan menghindarkan kita dari su’udz dzan kepada Allah apabila pekerjaan kita tidak menghasilkan apa-apa. Sikap kepasrahan (yang tidak mengurangi profesionalisme tadi) tentu akan lebih menjadikan hidup kita enjoy.
Wallahu A’lam Bis showab

El-Syakur Words

Tidak ada komentar:

Posting Komentar