Tergelitik
jiwa kesantrianku membaca liputan Jawa Pos tentang ungkapan wakil ketua Pembina
Partai Demokrat sekaligus ketua DPR RI, Marzuki Alie di pondok pesantren LDII Jombang
pada hari rabu tanggal 27 Desember 2011 yang menyatakan bahwa Selama di
pesantren, santri hanya dijejali ilmu agama. Setelah keluar, mereka berdakwah
dengan mengharapkan amplop, begitu kurang lebih ungkapannya.
Santri
Dan Dakwah
Pondok
pesantren, sebagai garda paling depan yang harus membentengi moral umat islam
dituntut untuk selalu inten dalam menanamkan moral agama bagi santri, dengan
segala macam akulturasi budaya yang sedang terjadi pesantren harus mampu
menciptakan filter di benak para santri agar tidak selalu ngekor
terhadap apa yang sedang ngetrend.
Oleh karena itu, patut kiranya apabila pesantren
menghasilkan alumni seorang da’i. Apalagi di masa seperti sekarang, ketika – kalau
tidak boleh saya katakan semua – sebagian orang sudah larut dengan kesibukan
duniawinya tanpa memperhatikan nilai-nilai moral dalam kehidupannya, bahkan
sampai lupa memperhatikan kondisi akhlak anak-anaknya.
Dakwah Dan Amplop
Saya tidak menutup mata bahwa mungkin sekali ada
alumni pondok pesantren yang melatarbelakangi semangat berdakwahnya dengan
mengharap imbalan. Tapi juga tidak boleh dilupakan bahwa peran serta pondok
pesantren dalam pembangunan di Indonesia sangatlah penting, bahkan terlibat
langsung dalam sejarah kemerdekaan RI.
Hal itu menandakan bahwa, cara berdakwah yang
diharapkan oleh pesantren bukan hanya menjadi seorang yang pandai berpidato,
tapi dengan caranya sendiri para santri diharapkan dapat berdakwah sesuai
dengan kapasitasnya.
Maka kemudian apabila ada da’i yang nutabene alumni
pondok pesantren, berdakwah dengan mengharap amplop itu bukanlah tujuan dari
adanya pesantren itu sendiri.
Fungsi Ilmu Agama dan Ilmu Lain Versi Marzuki Alie
“apabila mengajarkan ilmu agama saja tanpa ilmu
lain, pesantren cenderung menghasilkan alumni miskin” pesan
pak ketua DPR RI.
Apabila pernyataan ini dikaji lagi maka seakan-akan
memunculkan kesimpulan bahwa, antara ilmu agama dan ilmu lain memiliki fungsi
yang berbeda. Ilmu agama berfungsi memiskinkan sedangkan ilmu lain berfungsi
mengkayakan, entah ilmu apa yang – pasti – membuat orang menjadi kaya!
Kalaupun yang dimaksud pak Marzuki itu keterampilan
kerja, maka tidak bisa menspesialisir pada pesantren saja. Karena semua lembaga
pendidikan apabila tidak mengajarkan keterampilan bagi anak didiknya tetap akan
sia-sia saja.
Jadi, mungkin pak Marzuki perlu memberikan tafsiran
lebih rinci lagi mengenai macam-macam ilmu yang bisa bikin kaya, batasan
keterampilan, dan lain-lain.
Kaya (Untuk Pak Marzuki Alie)
“guru ngaji miskin itu salah” masih kata pak
Marzuki Alie. Saya jadi heran, apa yang salah dengan mereka? Bukankah akan
lebih salah kalau pejabat negara yang miskin?. Guru ngaji miskin (sekalipun
beliau-beliau merasa ekonominya cukup) karena memang pemerintah kurang begitu
peduli terhadap mereka, terutama pemerintah pusat. Kalau di daerah-daerah sudah
banyak yang memberikan insentif bagi mereka.
Justru yang – menurut saya – paling salah apabila
pejabat negara yang miskin, sekalipun secara ekonomi mereka berlimpah ruah.
Nah, disinilah yang perlu dipahami bahwa miskin dan
kaya itu sangatlah relatif, orang yang menurut kita miskin boleh jadi merasa
cukup dengan pendapatan yang ia dapat, sebaliknya orang yang menurut kita kaya
boleh jadi mereka masih merasa kurang dan kurang dari apa yang telah ia dapat.
Wal Hasil, orang miskin itu
adalah orang yang merasa kurang dengan apa yang telah ia dapat dan orang kaya adalah
orang yang sudah merasa cukup bahkan puas dengan apa yang telah ia dapat. Dengan
kata lain, mungkin saja guru ngaji atau da’i itulah yang kaya, sedangkan
pejabat negara itulah yang miskin, buktinya rakyat sering disuguhi kabar
pejabat yang korupsi.
Wallahu A’lam Bis Showab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar