SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Rabu, 28 Desember 2011

"AMPLOP" BUAT KETUA DPR RI (MARZUKI ALIE)


Tergelitik jiwa kesantrianku membaca liputan Jawa Pos tentang ungkapan wakil ketua Pembina Partai Demokrat sekaligus ketua DPR RI, Marzuki Alie di pondok pesantren LDII Jombang pada hari rabu tanggal 27 Desember 2011 yang menyatakan bahwa Selama di pesantren, santri hanya dijejali ilmu agama. Setelah keluar, mereka berdakwah dengan mengharapkan amplop, begitu kurang lebih ungkapannya.
Santri Dan Dakwah
Pondok pesantren, sebagai garda paling depan yang harus membentengi moral umat islam dituntut untuk selalu inten dalam menanamkan moral agama bagi santri, dengan segala macam akulturasi budaya yang sedang terjadi pesantren harus mampu menciptakan filter di benak para santri agar tidak selalu ngekor terhadap apa yang sedang ngetrend.
Di samping itu, sebagai lembaga Tafaqquh Fid-din pesantren selalu mengampanyekan amar ma’ruf nahi munkar demi tegaknya peradaban yang lebih baik tanpa menafikan modernisasi yang dianggap lebih baik.
Oleh karena itu, patut kiranya apabila pesantren menghasilkan alumni seorang da’i. Apalagi di masa seperti sekarang, ketika – kalau tidak boleh saya katakan semua – sebagian orang sudah larut dengan kesibukan duniawinya tanpa memperhatikan nilai-nilai moral dalam kehidupannya, bahkan sampai lupa memperhatikan kondisi akhlak anak-anaknya.
Dakwah Dan Amplop
Saya tidak menutup mata bahwa mungkin sekali ada alumni pondok pesantren yang melatarbelakangi semangat berdakwahnya dengan mengharap imbalan. Tapi juga tidak boleh dilupakan bahwa peran serta pondok pesantren dalam pembangunan di Indonesia sangatlah penting, bahkan terlibat langsung dalam sejarah kemerdekaan RI.
Hal itu menandakan bahwa, cara berdakwah yang diharapkan oleh pesantren bukan hanya menjadi seorang yang pandai berpidato, tapi dengan caranya sendiri para santri diharapkan dapat berdakwah sesuai dengan kapasitasnya.
Maka kemudian apabila ada da’i yang nutabene alumni pondok pesantren, berdakwah dengan mengharap amplop itu bukanlah tujuan dari adanya pesantren itu sendiri.
Fungsi Ilmu Agama dan Ilmu Lain Versi Marzuki Alie
“apabila mengajarkan ilmu agama saja tanpa ilmu lain, pesantren cenderung menghasilkan alumni miskin” pesan pak ketua DPR RI.
Apabila pernyataan ini dikaji lagi maka seakan-akan memunculkan kesimpulan bahwa, antara ilmu agama dan ilmu lain memiliki fungsi yang berbeda. Ilmu agama berfungsi memiskinkan sedangkan ilmu lain berfungsi mengkayakan, entah ilmu apa yang – pasti – membuat orang menjadi kaya!
Kalaupun yang dimaksud pak Marzuki itu keterampilan kerja, maka tidak bisa menspesialisir pada pesantren saja. Karena semua lembaga pendidikan apabila tidak mengajarkan keterampilan bagi anak didiknya tetap akan sia-sia saja.
Jadi, mungkin pak Marzuki perlu memberikan tafsiran lebih rinci lagi mengenai macam-macam ilmu yang bisa bikin kaya, batasan keterampilan, dan lain-lain.
Kaya (Untuk Pak Marzuki Alie)
“guru ngaji miskin itu salah” masih kata pak Marzuki Alie. Saya jadi heran, apa yang salah dengan mereka? Bukankah akan lebih salah kalau pejabat negara yang miskin?. Guru ngaji miskin (sekalipun beliau-beliau merasa ekonominya cukup) karena memang pemerintah kurang begitu peduli terhadap mereka, terutama pemerintah pusat. Kalau di daerah-daerah sudah banyak yang memberikan insentif bagi mereka.
Justru yang – menurut saya – paling salah apabila pejabat negara yang miskin, sekalipun secara ekonomi mereka berlimpah ruah.
Nah, disinilah yang perlu dipahami bahwa miskin dan kaya itu sangatlah relatif, orang yang menurut kita miskin boleh jadi merasa cukup dengan pendapatan yang ia dapat, sebaliknya orang yang menurut kita kaya boleh jadi mereka masih merasa kurang dan kurang dari apa yang telah ia dapat.
Wal Hasil, orang miskin itu adalah orang yang merasa kurang dengan apa yang telah ia dapat dan orang kaya adalah orang yang sudah merasa cukup bahkan puas dengan apa yang telah ia dapat. Dengan kata lain, mungkin saja guru ngaji atau da’i itulah yang kaya, sedangkan pejabat negara itulah yang miskin, buktinya rakyat sering disuguhi kabar pejabat yang korupsi.

Wallahu A’lam Bis Showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar