Mungkin aku memang tidak cocok menjadi guru formal, dengan perangkat
pembelajaran yang menurutku terlalu jelimet, malah bukannya mempermudah dalam
melakukan transformasi ilmu pengetahuan. Program tahunan, Program persmester,
Silabus, RPP – entah aku lupa apa itu kepanjangannya – dan tetek bengiknya yang
lain, justru semakin membuatku kaku dalam mengajar.
Dalam dunia pendidikan formal, aku
sudah tujuh tahun lamanya bergelut, dua tahun pertama ditugasi sebagai guru
piket yang tugasnya double, menjaga jam pelaran agar tidak sampai kosong
dan menjaga ketertiban Siswa, maklum saja waktu itu belum ada petugas
kedisiplinan.lima tahun berikutnya resmi ditugasi sebagai guru mata pelajaran,
namun lima
tahun itu rasa-rasanya belum cukup untuk menjadikakku sebagai “guru
profesional”, apalagi diakui negara sebagai guru yang betul-betul guru;
bersertifikat.
Kawan, dalam lima tahun itu, sekolah menugasiku mengajar empat mata
pelajaran yang berbeda-beda, satu tahun mengajar al-Qur’an, tahun berikutnya
Bahasa Indonesia, pindah lagi ke pelajaran IPS terpadu selama dua tahun, dan
terahir, dipindah lagi ke PKn. Entah karena aku belum kelihatan faknya dimana
atau karena sekolah menilaiku multi talenta yang bisa “bicara” apa saja. Ah,
aku cuek saja, husnudzzan, aku yakin karena opsi kedua; karena multi
talenta.
Nah, pada saat dua tahun mengajar IPS inilah muncul istilah “sleeping time”
di kalangan siswa. Bayangkan saja, dalam satu pelajaran aku harus menguasai
tiga materi sekaligus; Sejarah nasional, Ekonomi dan Geografi. kondisi ini
cukup membuatku tertantang.
Dalam tiga pelaran itu, berbicara sejarah adalah kesenanganku, terutama
ketika sampai pada materi kebangkitan nasional, aku ceritakan tragedi
renggasdengklok, pekik merdeka, sampai tragedi Bung Karno mandi kencing secara
berulang-ulang, tentu dengan sedikit mengabaikan RPP yang memang tak pernah aku
buat.
Dengan suaraku yang menggelegar, aku bercerita dengan semangat, “merdeka
atau mati!” pekikku menirukan Bung Karno. Mereka antosias, sesekali mereka
menirukan pekikan itu sambil mengangkat dan mengepalkan tangan kanan menghadap
ke muka.
“Sesama orang Indonesia, jangankan bertemu di sorga, ketemu dineraka saja,
wajib memekikkan kata merdeka, MERDEKA!” teriakku menirukan suara Bung Karno
saat itu. “MERDEKA” spontan para siswa menjawab dengan teriakan penuh semangat
perjuangan. Para siswa semakin antosias, seolah ruh perjuangan beliau menyusup
pada masing-masing jiwanya, mereka terhipnotis, tak ada suara lain di kelas itu
kecuali suaraku yang berapi-api, mereka semakin melongo, konsentrasi pada
setiap untaian kata yang keluar dari mulutku. Sesekali bel tanda jam pelaranku
berakhir pun aku abaikan.
Namun, pemandangan seperti itu tak selamanya aku jumpai, lebih-lebih katika
sampai pada bab yang berbicara ekonomi, dan yang lebih lagi, geografi. Ya, aku
memang tak piawai dalam hal ilmu bumi, sama sekali tidak. Dalam situasi ini,
aku suruh saja murid-muridku merangkum dan membaca sendiri buku mereka. Pada
bab tentang ekonomi, aku masih bisa berspekulasi, biasanya aku ceritakan
tentang Bob Sadino, penjual telor yang nyentrik itu. “beliau itu salah satu
orang terkaya yang dimiliki Indonesia”, kataku membumbui cerita perjalanan Om
Bob yang tak pernah belajar teori bisnis itu.
Suatu saat, aku pernah jengkel pada diriku sendiri, ketika aku masuk kelas,
mengecek kehadiran siswa dengan cara menmanggilnya satu per satu, aku mencoba
menjelaskan tentang cara menghitung kepadatan penduduk, lima atau sepuluh menit
kemudian, nyaris semua siswa merebahkan kepalanya, menunduk ke meja. Semula
aku mencoba membangunkan mereka, namun tetap saja, setelah lima menit aku
menjelaskan, mereka kembali tidur. “Kalau begini, saya ganti cara saya
memahamkan kalian; merangkum!” teriakku membuat mereka kaget dan spontan bangun
sambil mengucek-ucek mata. Aku suruh mereka merangkum lima halaman sekaligus,
“nilai rangkuman kalian, nanti akan saya anggap sebagai nilai harian”, lanjutku
menakut-nakuti mereka.
Mereka membolak-balik setiap halaman yang ku maksudkan dan sesekali
menulisnya pada kertas HVS yang aku bagikan sebelumnya. “cara yang bagus untuk
memaksa kami membaca, pak” kata Arif, murid kelas VIII A yang paling segalanya
di kelas, paling rajin, paling pintar, paling rapi, bahkan paling cakep. Aku
iyakan saja celotehan itu dengan menganggukkan kepala sembari tersenyum ringan,
aku tak mau memperpanjang gurauan di saat seperti ini, saat aku jengkel.
Cara seperti ini sering aku lakukan, karena bukan hanya satu dua kali,
ketika aku menggunakan metode ceramah – kecuali sejarah kebangkitan nasional –
seringkali ceramahku membuat siswa terlelap, entah apa karena cara
penyampaianku yang kurang menarik, atau karena mereka yang memang ngantukan???.
“kalian hati-hati kalau mendengarkan saya bicara, suara saya ini
mengandung ilmu sirep” kataku pada mereka hampir setiap sebelum memulai
menjelaskan pelajaran. Nah, karena kebiasaan inilah, setiap kali aku membawa
buka dan spidol menuju kelas, ada satu anak yang nyeloteh, “sleeping time...”
katanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar