“Makkah itu tanahnya tandus tapi rakyatnya makmur,
Indonesia tanahnya makmur tapi masyarakatnya tandus” dauh KH. Moh. Zuhri Zaini,
Pengasuh PP. Nurul Jadid waktu memberikan materi Ruhul Jihad pada
pengurus dalam acara DikLat pengurus pesantren, tanggal 11 Nopember 2012 yang
bertempat di Aula MTs Nurul Jadid.
Dua kalimat di atas memang cenderung bernada guyon,
namun apabila kita renungkan secara mendalam, tampaklah bahwa masing-masing
kalimat itu memiliki arti yang sangat mendalam dan sangat up to date dengan
kondisi Indonesia masa kini. Memang ketika beliau menyampaikan dua kalimat di
atas, spontan
membuat peserta DikLat tertawa kecil, namun setelah beliau
menjelaskan secara mendalam, mengajak para peserta bertyafakkur dengan keadaan
negeri yang konon katanya tanah surga ini, mereka terdiam seolah-olah sangat
sepakat dengan dua kalimat itu.
“Kalau saudara sedang berhaji, coba perhatikan di
sekeliling saudara, buah apa yang tidak ada ti sana! semua ada, sampai buah
yang khas Indonesia ada, misalnya terong, kacang panjang (otok) dan banyak
bebuahan lain yang kalau kita amati pepohonannya di sana, tidak mungkin ada”
kira-kira begitu dauh beliau meyakinkan para peserta.
“Nah, di Indonesia, katanya kalau tanam tongkat jadi
pohon, saking dari suburnya tanah kita. Tapi coba amati masyarakatnya,
tak sedikit dari mereka yang tak dapat menikmati kesuburan itu” sambung beliau
memancing peserta berfikir.
Saya yang kebetulan malam itu juga menjadi peserta, juga
ikut larut dalam suasana tafakkur, pikiran menerawang kemana-mana, apa
sebenarnya yang menjadi penyebab semuanya. Makkah yang secara geografis sangat
berbanding terbalik dibawah Indonesia, tapi faktanya, kesejahteraan rakyat
Indonesia berada jauh di bawah masyarakat Makkah.
“keberkahan/kemakmuran itu ditentukan dari kedekatan
pengabdian kita kepada Allah, bukan ditentukan dari keadaan tanah” dauh beliau
menjawab segala yang tanda tanya yang memenuhi otakku.
Dan ternyata menurut beliau, Allah menyalurkan barokah itu
dapat melalui manusia, dan juga melalui tempat. Beliau mencontohkan Nabi
Muhammad dan para Nabi yang lain, yang memang oleh Allah – karena kedekatannya –
segala do’anya dikabulkan, sehingga sangat mungkin ketika ada seseorang yang
dido’akan oleh para Nabi supaya menjadi kaya, maka dengan ijin Allah orang itu
akan dipermudah jalannya untuk menjadi kaya.
Contoh lain, bahwa barokah itu dapat disalurkan Allah
melalui tempat-tempat, beliau mengambil contoh Makkah. Menurut beliau, dengan
kesucian tanah dan karena kemuliaannya, Makkah diberi karunia husus oleh Allah
sehingga ada tempat-tempat yang apabila berdo’a disana pasti terkabul.
Disamping itu, dulu Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah agar
melimpahkan kemakmuran pada tanah Makkah, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini
negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada
penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. QS.
Al-Baqarah [2]: 126.”
Setelah mengulas dari sisi tashawwuf dan sejarah dua
saluran barokah itu, beliau menganalogikan barokah itu seperti sinyal handphone,
dan dua saluran barokah itu – tempat dan manusia – ibarat tower. Semakin dekat handphon
itu ke tower, maka kemungkinan besarnya adalah mendapatkan sinyal semakin kuat,
nah, ketika handphone sudah mendapatkan sinyal yang kuat, maka
komunikasi dengan orang di seberang akan berlangsung jelas dan terang.
Satu hal yang dapat saya simpulkan dari taushiyah baliau
adalah, sehebat apapun kita, sehebat apapun sumber daya alam kita, bahkan
sepandai apapun kita dalam me-manage kekayaan alam ini, namun tidak
didasari pada i’tikad pengabdian tulus ikhlas karen Allah, maka usaha hanya
tinggallah usaha, selama-lamanya kita tidak akan mampu memetik hasilnya.
Semoga kita semua diberi perlindungan oleh Allah sehingga dapat
mengamalkan isi dari apa yang beliau sampaikan dan meneladani semangat
perjuangan beliau. Amin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar