SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Jumat, 16 November 2012

BEDA MAKKAH BEDA INDONESIA; Rangkuman Kecil Taushiyah Pengasuh PPNJ


“Makkah itu tanahnya tandus tapi rakyatnya makmur, Indonesia tanahnya makmur tapi masyarakatnya tandus” dauh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid waktu memberikan materi Ruhul Jihad pada pengurus dalam acara DikLat pengurus pesantren, tanggal 11 Nopember 2012 yang bertempat di Aula MTs Nurul Jadid.
Dua kalimat di atas memang cenderung bernada guyon, namun apabila kita renungkan secara mendalam, tampaklah bahwa masing-masing kalimat itu memiliki arti yang sangat mendalam dan sangat up to date dengan kondisi Indonesia masa kini. Memang ketika beliau menyampaikan dua kalimat di atas, spontan
membuat peserta DikLat tertawa kecil, namun setelah beliau menjelaskan secara mendalam, mengajak para peserta bertyafakkur dengan keadaan negeri yang konon katanya tanah surga ini, mereka terdiam seolah-olah sangat sepakat dengan dua kalimat itu.
“Kalau saudara sedang berhaji, coba perhatikan di sekeliling saudara, buah apa yang tidak ada ti sana! semua ada, sampai buah yang khas Indonesia ada, misalnya terong, kacang panjang (otok) dan banyak bebuahan lain yang kalau kita amati pepohonannya di sana, tidak mungkin ada” kira-kira begitu dauh beliau meyakinkan para peserta.
“Nah, di Indonesia, katanya kalau tanam tongkat jadi pohon, saking dari suburnya tanah kita. Tapi coba amati masyarakatnya, tak sedikit dari mereka yang tak dapat menikmati kesuburan itu” sambung beliau memancing peserta berfikir.
Saya yang kebetulan malam itu juga menjadi peserta, juga ikut larut dalam suasana tafakkur, pikiran menerawang kemana-mana, apa sebenarnya yang menjadi penyebab semuanya. Makkah yang secara geografis sangat berbanding terbalik dibawah Indonesia, tapi faktanya, kesejahteraan rakyat Indonesia berada jauh di bawah masyarakat Makkah.
“keberkahan/kemakmuran itu ditentukan dari kedekatan pengabdian kita kepada Allah, bukan ditentukan dari keadaan tanah” dauh beliau menjawab segala yang tanda tanya yang memenuhi otakku.
Dan ternyata menurut beliau, Allah menyalurkan barokah itu dapat melalui manusia, dan juga melalui tempat. Beliau mencontohkan Nabi Muhammad dan para Nabi yang lain, yang memang oleh Allah – karena kedekatannya – segala do’anya dikabulkan, sehingga sangat mungkin ketika ada seseorang yang dido’akan oleh para Nabi supaya menjadi kaya, maka dengan ijin Allah orang itu akan dipermudah jalannya untuk menjadi kaya.
Contoh lain, bahwa barokah itu dapat disalurkan Allah melalui tempat-tempat, beliau mengambil contoh Makkah. Menurut beliau, dengan kesucian tanah dan karena kemuliaannya, Makkah diberi karunia husus oleh Allah sehingga ada tempat-tempat yang apabila berdo’a disana pasti terkabul.
Disamping itu, dulu Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah agar melimpahkan kemakmuran pada tanah Makkah, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. QS. Al-Baqarah [2]: 126.”
Setelah mengulas dari sisi tashawwuf dan sejarah dua saluran barokah itu, beliau menganalogikan barokah itu seperti sinyal handphone, dan dua saluran barokah itu – tempat dan manusia – ibarat tower. Semakin dekat handphon itu ke tower, maka kemungkinan besarnya adalah mendapatkan sinyal semakin kuat, nah, ketika handphone sudah mendapatkan sinyal yang kuat, maka komunikasi dengan orang di seberang akan berlangsung jelas dan terang.
Satu hal yang dapat saya simpulkan dari taushiyah baliau adalah, sehebat apapun kita, sehebat apapun sumber daya alam kita, bahkan sepandai apapun kita dalam me-manage kekayaan alam ini, namun tidak didasari pada i’tikad pengabdian tulus ikhlas karen Allah, maka usaha hanya tinggallah usaha, selama-lamanya kita tidak akan mampu memetik hasilnya.
Semoga kita semua diberi perlindungan oleh Allah sehingga dapat mengamalkan isi dari apa yang beliau sampaikan dan meneladani semangat perjuangan beliau. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar