ANDALUSIA (SPANYOL); PINTU
BAGI KEEMASAN ISLAM DI EROPA
Menjadi terenyah ketika membaca ulang sejarah Islam di
abad pertangahan (abad ke 7 – 15 M), betapa tidak,
muatan masa keemasan yang mengukir banyak prestasi; tak hanya di bidang invasi daerah taklukkan tapi juga invasi pendidikan, runtuh melalui serangan tentara mongol yang
berjumlah 200.000 orang di Baghdad, Irak. Pikiran kita dipertontonkan pada
capaian agung para pendahulu Islam yang dalam waktu sekejab sirna.
Bayangkan, prestasi gemilang itu sudah mulai dirasakan kembali
pada tahun 756 M, melalui keuletan salah seorang keturunan Bani Umayyah yang
sanggup menundukkan keangkuhan Eropa, sukses memasuki
kembali Spanyol di bawah
komando Abdurrahman ad-Dakhil, yang pada saat itu “konon” masih dalam usia
belasan tahun. Prestasi demi prestasi sampai pada abad ke 12 kian banyak
menorehkan kegemilangan. Sekali lagi, kesuksesan itu dimulai dari abad ke 7
sampai abad ke 12; 6 abad Islam memimpin dunia, waktu yang sangat tidak sebentar.
Mulanya
Andalusia pernah juga dikuasai oleh pendahulu Umayyah selama kurang lebih 40
tahun, namun runtuh ketika abdurrahman al-Ghafiq dipukul mundur oleh tentara
Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel pada tahun 732 M. ini kemudian
menjadi awal dari kekalahan Umayyah di sana dan tiap kali dilakukan serangan
lanjutan tak pernah membuahkan hasil; Umayyah kalah dan semakin kalah sampai
ahirnya musnah pada tahun 750.
Setelah
itu
Abdurrahman ad-Dakhil – nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muawiyah bin
Hisyam bin Abdul Malik – kembali sukses
merebut Andalusia pada Tahun 756. Invasi ini diakukan seiring dengan adanya
serangan (perebutan kekuasaan) oleh Abbasiyah kepada seluruh anggota keturunan
Umayyah. Nah, ad-Dakhil kemudian menjadi salah satu dari orang yang selamat.
Dia lari dari Irak, Syiria, Palestina, Mesir dan akhirnya sukses memasuki
Andalusia (Spanyol); inilah kemudian yang menjadi embrio dari lahirnya Umayyah
jilid II.
Pada masa pemerintahan
Abdurrahman ad-Dakhil, mulai dibangun beberapa masjid
dan sekolah sekolah bahkan kampus-kampus sebagai penunjang
pendidikan. Yang untuk selanjutnya, itu menjadi modal awal bagi kepemimpinan
selanjutnya yang sukses menjadikan Andalusia sebagai negara yang kemegahannya
mampu menyaingi Baghdad; Irak.
Andalusia
mendapat capaian ekonomi yang belum pernah dicapai oleh negera-negara lain
sebelumnya. Ia mampu menyilaukan mata bangsa Eropa; bahkan dunia. Perkembangan
di bidang pendidikannya pun tak kalah gawatnya, bahkan saking banyaknya pelajar yang berasal dari kalangan non Islam Eropa belajar di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang ada di sana,
seolah-olah sejarah membuktikan bahwa pada saat itu Islam sudah menjadi ‘guru’
bagi bangsa Eropa.
Bersamaan dengan kejayaan itu, Eropa sedang dilanda masa
kegelapan; masa dimana gereja menjadi pusat penentu kebijakan, mulai dari
persoalan agama, sosial, bahkan perpolitikannya mutlak dijalankan oleh pihak
gereja. Orang-orang gereja menempati strata sosial tertinggi dan berhak
mendapat pelayanan husus. Kondisi semacam itu, menjadi kekecewaan tersendiri di
sebagian golongan yang merasa hak kemanusiaannya dianulir secara keseluruhan
oleh gereja. Tentu kemudian ini menjadi pemicu beralihnya perhatian masyarakat
pada pemerintahan Islam DI Andalusia yang tidak mendikotomi
strata sosial.
GAMBARAN KECIL SEBAGIAN
TOKOH DAN SEMANGAT PEMIKIRAN
Pada tahun 820 M, muncul tokoh Islam dari cordova;
as-Syafi’i. salah satu pemikir terkemuka yang menggagas teori keagamaan sebagai
sumbu dari pada hukum/public policy. Setiap hukum/public policy yang diputuskan
oleh pemerintah harus berpijak pada landasan wahyu (al-Qur’an dan Hadits).
as-Syafi’I juga tidak menutup mata terhadap hal-hal kasuistik yang mungkin saja
dalam wahyu tidak tersurat, beliau juga mengakui bahwa kesepakatan masyarakat
dapat pula menjadi hukum/public policy sepanjang tidak bertentangan dengan
wahyu (Ijma’), bahkan beliau juga mengakui bahwa kasus yang secara tersurat
tidak tertulis dalam wahyu masih dapat dicari analoginya terhadap kasus lain
yang mungkin tertulis dalam wahyu (Qiyas).
Pendapat as-Syafi’I di atas kemudian dibantah oleh Thomas
Aquinus (1275) sekitar empat abad setelah pemikiran as-Syafi’I dikemukakan.
Sarjana berkebangsaan Eropa ini adalah salah satu dari sekian banyak sarjana Eropa
yang dihasilkan oleh sekolah yang didirikan pemerintah Islam.
Thomas Aquinus menyatakan bahwa pendapat as-Syafi yang
menghubungkan hukum/public policy dengan wahyu secara langsung tidak dapat
diterima, sarjana yang beragama kristen ini menyatakan bahwa hubungan
hukum/public policy dan wahyu tidak memiliki hubungan langsung, dengan kata
lain, mungkin saja pada saat-saat tertentu hukum/public policy akan berjalan
terbalik dari wahyu apabila itu yang secara logis dipandang lebih bijaksana. Namun
di sisi lain, Thomas Aquinus juga berpendapat bahwa sepanjang wahyu masih dapat
dijadikan rujukan maka itu yang didahulukan.
Perdebatan dua pendapat di atas, menunjukkan bahwa
semangat perkembangan keilmuan di
Andalusia sangat tinggi, hal ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta
Umayyah II yang menjadi pemerintah di sana. Jadi, sekali lagi, Islam adalah
‘guru’ bagi bangsa-bangsa barat.
--------------------------- to be continued ----------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar