SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Jumat, 23 November 2012

KAMI MERINDUKAN KEJAYAANMU, AGAMAKU!


ANDALUSIA (SPANYOL); PINTU BAGI KEEMASAN ISLAM DI EROPA

Menjadi terenyah ketika membaca ulang sejarah Islam di abad pertangahan (abad ke 7 – 15 M), betapa tidak, muatan masa keemasan yang mengukir banyak prestasi; tak hanya di bidang invasi daerah taklukkan tapi juga invasi pendidikan, runtuh melalui serangan tentara mongol yang berjumlah 200.000 orang di Baghdad, Irak. Pikiran kita dipertontonkan pada capaian agung para pendahulu Islam yang dalam waktu sekejab sirna.
Bayangkan, prestasi gemilang itu sudah mulai dirasakan kembali pada tahun 756 M, melalui keuletan salah seorang keturunan Bani Umayyah yang sanggup menundukkan keangkuhan Eropa, sukses memasuki
kembali Spanyol di bawah komando Abdurrahman ad-Dakhil, yang pada saat itu “konon” masih dalam usia belasan tahun. Prestasi demi prestasi sampai pada abad ke 12 kian banyak menorehkan kegemilangan. Sekali lagi, kesuksesan itu dimulai dari abad ke 7 sampai abad ke 12; 6 abad Islam memimpin dunia, waktu yang sangat tidak sebentar.
Mulanya Andalusia pernah juga dikuasai oleh pendahulu Umayyah selama kurang lebih 40 tahun, namun runtuh ketika abdurrahman al-Ghafiq dipukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel pada tahun 732 M. ini kemudian menjadi awal dari kekalahan Umayyah di sana dan tiap kali dilakukan serangan lanjutan tak pernah membuahkan hasil; Umayyah kalah dan semakin kalah sampai ahirnya musnah pada tahun 750.
Setelah itu Abdurrahman ad-Dakhil – nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik – kembali sukses merebut Andalusia pada Tahun 756. Invasi ini diakukan seiring dengan adanya serangan (perebutan kekuasaan) oleh Abbasiyah kepada seluruh anggota keturunan Umayyah. Nah, ad-Dakhil kemudian menjadi salah satu dari orang yang selamat. Dia lari dari Irak, Syiria, Palestina, Mesir dan akhirnya sukses memasuki Andalusia (Spanyol); inilah kemudian yang menjadi embrio dari lahirnya Umayyah jilid II.
Pada masa pemerintahan Abdurrahman ad-Dakhil, mulai dibangun beberapa masjid dan sekolah sekolah bahkan kampus-kampus sebagai penunjang pendidikan. Yang untuk selanjutnya, itu menjadi modal awal bagi kepemimpinan selanjutnya yang sukses menjadikan Andalusia sebagai negara yang kemegahannya mampu menyaingi Baghdad; Irak.
Andalusia mendapat capaian ekonomi yang belum pernah dicapai oleh negera-negara lain sebelumnya. Ia mampu menyilaukan mata bangsa Eropa; bahkan dunia. Perkembangan di bidang pendidikannya pun tak kalah gawatnya, bahkan saking banyaknya pelajar yang berasal dari kalangan non Islam Eropa belajar di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang ada di sana, seolah-olah sejarah membuktikan bahwa pada saat itu Islam sudah menjadi ‘guru’ bagi bangsa Eropa.


Bersamaan dengan kejayaan itu, Eropa sedang dilanda masa kegelapan; masa dimana gereja menjadi pusat penentu kebijakan, mulai dari persoalan agama, sosial, bahkan perpolitikannya mutlak dijalankan oleh pihak gereja. Orang-orang gereja menempati strata sosial tertinggi dan berhak mendapat pelayanan husus. Kondisi semacam itu, menjadi kekecewaan tersendiri di sebagian golongan yang merasa hak kemanusiaannya dianulir secara keseluruhan oleh gereja. Tentu kemudian ini menjadi pemicu beralihnya perhatian masyarakat pada pemerintahan Islam DI Andalusia yang tidak mendikotomi strata sosial. 

GAMBARAN KECIL SEBAGIAN TOKOH DAN SEMANGAT PEMIKIRAN


Pada tahun 820 M, muncul tokoh Islam dari cordova; as-Syafi’i. salah satu pemikir terkemuka yang menggagas teori keagamaan sebagai sumbu dari pada hukum/public policy. Setiap hukum/public policy yang diputuskan oleh pemerintah harus berpijak pada landasan wahyu (al-Qur’an dan Hadits). as-Syafi’I juga tidak menutup mata terhadap hal-hal kasuistik yang mungkin saja dalam wahyu tidak tersurat, beliau juga mengakui bahwa kesepakatan masyarakat dapat pula menjadi hukum/public policy sepanjang tidak bertentangan dengan wahyu (Ijma’), bahkan beliau juga mengakui bahwa kasus yang secara tersurat tidak tertulis dalam wahyu masih dapat dicari analoginya terhadap kasus lain yang mungkin tertulis dalam wahyu (Qiyas).

Pendapat as-Syafi’I di atas kemudian dibantah oleh Thomas Aquinus (1275) sekitar empat abad setelah pemikiran as-Syafi’I dikemukakan. Sarjana berkebangsaan Eropa ini adalah salah satu dari sekian banyak sarjana Eropa yang dihasilkan oleh sekolah yang didirikan pemerintah Islam.
Thomas Aquinus menyatakan bahwa pendapat as-Syafi yang menghubungkan hukum/public policy dengan wahyu secara langsung tidak dapat diterima, sarjana yang beragama kristen ini menyatakan bahwa hubungan hukum/public policy dan wahyu tidak memiliki hubungan langsung, dengan kata lain, mungkin saja pada saat-saat tertentu hukum/public policy akan berjalan terbalik dari wahyu apabila itu yang secara logis dipandang lebih bijaksana. Namun di sisi lain, Thomas Aquinus juga berpendapat bahwa sepanjang wahyu masih dapat dijadikan rujukan maka itu yang didahulukan.
Perdebatan dua pendapat di atas, menunjukkan bahwa semangat perkembangan keilmuan di Andalusia sangat tinggi, hal ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta Umayyah II yang menjadi pemerintah di sana. Jadi, sekali lagi, Islam adalah ‘guru’ bagi bangsa-bangsa barat.

--------------------------- to be continued ----------------------------
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar