SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Minggu, 18 November 2012

MERESPON MOTIVASI; Refleksi Taushiyah Pengasuh Jilid II



Di zaman ini, kita memang semakin mudah mendapatkan kata-kata bijak ataupun cerita-cerita motivasi, tinggal ketik di google “kata bijak” atau “cerita motivasi”, dalam waktu sekejap kita akan diperlihatkan pada pilihan situs yang jumlahnya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan, namun pernahkah kita berpikir? Betapa kata bijak yang telah kita baca atau mungkin sudah kita hafal, tak cukup mampu memberikan pengaruh positif bagi kita, justru terkadang kita hanya dengan pongah menjadikan
perbendaharaan kata bijak itu sebagai sarana doktrinasi dalam forum-forum seminar atau pelatihan untuk menandingi kata-kata bijak yang lain, mutlak tak memberikan pengaruh apa-apa; terutama bagi kedewasaan moral kita sendiri.
Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi kasus di atas, hemat saya, kata atau cerita motivasi dapat memberikan pengaruh baik yang lebih bisa bertahan lama bisa saja karena dorongan internal dari pribadi kita yang kuat, atau bisa saja karena figur yang memberikan cerita atau kata bijak itu memang orang yang kita pandang istimewa. Sehingga secara tidak sadar kita terbawa ke dalam samudera “hipnotis” sang figur.
Baik, kita mulai dari yang pertama, bahwa dorongan internal dapat juga menjadi penggerak dalam merespon motivasi. Orang yang memang menyadari dirinya sedang berada dalam keadaan kering, butuh advice dan lebih-lebih menyadari bahwa dia sedang membutuhkan motivasi, maka jangankan diberi motivasi oleh orang yang menurut dia dapat difigurkan, berasal dari suara anak kecil yang sedang asyik bergurau saja dia akan mudah termotivasi. Misalnya dalam keadaan seperti ini dia lalu mendengar suara anak-anak yang sedang berkejar-kejaran, “kejar… kejar… kejar…” bisa saja orang yang berada dalam keadaan ini, merasa apa dia dengar tadi adalah suara tuhan yang sedang memberinya petunjuk.
Prihal yang pertama ini lebih mudah menerima atau merespon motivasi dari luar dibandingkan dengan keadaan kedua yang hanya mengandalkan figur orang yang memberinya kata-kata. Karena kalaupun pengaruh atau ketokohan orang yang memberi motivasi itu tidak diragukan namun apabila tidak didukung oleng penggerak internal, itu hanya akan sia-sia saja.
Seperti ketika Nabi kita, Muhammad berdakwah di awal-awal Islam. Dalam merespon ajakan Nabi yang tentu dengan kalimat yang santun, orang quraisy malah mencibir, mencaci, memarginalkan, bahkan tak jarang kebencian itu diluapkan dengan tindakan yang tak sewajarnya, mulai dari di lempari kotoran unta sampai dikebiri kebebasan interaksi sosialnya; tidak boleh melakukan kontak fisik – berbicara, jual beli dan hubungan keseharian lainnya – dengan orang quraisy. Semua itu terjadi bukan karena ketokohan Nabi yang meragukan, bukan pula karena Nabi tidak pandai berdiplomasi, tapi jauh dari pada itu semua, orang kafir quraisy sudah tertutup hatinya dengan ego pribadinya sendiri, meminjam bahasa di atas; dorongan internalnya memang tidak ada.
Teringat pesan Alm. Pendiri PP. Nurul Jadid, almaghfurlah KH. Zaini Abd. Mun’im kepada pengasuh PPNJ, KH. Moh. Zuhri Zaini yang disampaikan langsung oleh pengasuh PPNJ pada saat memberi taushiyah kepada pengurus PPNJ, tanggal 11 Nop 2012, membuat saya tergerak menuangkannya secara tertulis dengan harapan tidak mudah lupa dengan kata hikmah yang akhir-akhir ini jumlahnya semakin banyak tapi pengaruhnya semakin hilang, lebih-lebih kata itu memang berasal dari insan pilihan yang tingkat kelayakan meneladaninya sudah tidak diragukan lagi.
Kira-kira begini kalimatnya…
“Kamu ini yang penting rajin dalam mengabdi pada agama, mengajar para santri. Asalkan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka kamu tak perlu  khawatir, Allah pasti akan memudahkan urusan keduniaanmu”
Nah, kawan… tibalah saatnya kita renungkan, mungkinkah kita dapat mengamalkan pesan Alm. Pendiri di bawah ini dengan baik? Dari sisi figur, beliau tidak diragukan lagi, banyak para ulama’ yang memberikan kesaksian terhadap kewaliannya. Tinggal sekarang dorongan internal diri kita, masih kuatkah? Atau bahkan sudah tak ada lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar