Di zaman ini, kita memang semakin mudah
mendapatkan kata-kata bijak ataupun cerita-cerita motivasi, tinggal ketik di
google “kata bijak” atau “cerita motivasi”, dalam waktu sekejap kita akan
diperlihatkan pada pilihan situs yang jumlahnya bisa mencapai ratusan atau
bahkan ribuan, namun pernahkah kita berpikir? Betapa kata bijak yang telah kita
baca atau mungkin sudah kita hafal, tak cukup mampu memberikan pengaruh positif
bagi kita, justru terkadang kita hanya dengan pongah menjadikan
perbendaharaan
kata bijak itu sebagai sarana doktrinasi dalam forum-forum seminar atau
pelatihan untuk menandingi kata-kata bijak yang lain, mutlak tak memberikan
pengaruh apa-apa; terutama bagi kedewasaan moral kita sendiri.
Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi
kasus di atas, hemat saya, kata atau cerita motivasi dapat memberikan pengaruh
baik yang lebih bisa bertahan lama bisa saja karena dorongan internal dari
pribadi kita yang kuat, atau bisa saja karena figur yang memberikan cerita atau
kata bijak itu memang orang yang kita pandang istimewa. Sehingga secara tidak
sadar kita terbawa ke dalam samudera “hipnotis” sang figur.
Baik, kita mulai dari yang pertama, bahwa
dorongan internal dapat juga menjadi penggerak dalam merespon motivasi. Orang
yang memang menyadari dirinya sedang berada dalam keadaan kering, butuh advice
dan lebih-lebih menyadari bahwa dia sedang membutuhkan motivasi, maka jangankan
diberi motivasi oleh orang yang menurut dia dapat difigurkan, berasal dari
suara anak kecil yang sedang asyik bergurau saja dia akan mudah termotivasi.
Misalnya dalam keadaan seperti ini dia lalu mendengar suara anak-anak yang
sedang berkejar-kejaran, “kejar… kejar… kejar…” bisa saja orang yang berada
dalam keadaan ini, merasa apa dia dengar tadi adalah suara tuhan yang sedang memberinya
petunjuk.
Prihal yang pertama ini lebih mudah menerima
atau merespon motivasi dari luar dibandingkan dengan keadaan kedua yang hanya
mengandalkan figur orang yang memberinya kata-kata. Karena kalaupun pengaruh
atau ketokohan orang yang memberi motivasi itu tidak diragukan namun apabila
tidak didukung oleng penggerak internal, itu hanya akan sia-sia saja.
Seperti ketika Nabi kita, Muhammad berdakwah
di awal-awal Islam. Dalam merespon ajakan Nabi yang tentu dengan kalimat yang
santun, orang quraisy malah mencibir, mencaci, memarginalkan, bahkan tak jarang
kebencian itu diluapkan dengan tindakan yang tak sewajarnya, mulai dari di
lempari kotoran unta sampai dikebiri kebebasan interaksi sosialnya; tidak boleh
melakukan kontak fisik – berbicara, jual beli dan hubungan keseharian lainnya –
dengan orang quraisy. Semua itu terjadi bukan karena ketokohan Nabi yang
meragukan, bukan pula karena Nabi tidak pandai berdiplomasi, tapi jauh dari
pada itu semua, orang kafir quraisy sudah tertutup hatinya dengan ego
pribadinya sendiri, meminjam bahasa di atas; dorongan internalnya memang tidak
ada.
Teringat pesan
Alm. Pendiri PP. Nurul Jadid, almaghfurlah KH.
Zaini Abd. Mun’im kepada pengasuh PPNJ, KH. Moh. Zuhri Zaini yang disampaikan langsung oleh pengasuh PPNJ pada saat memberi taushiyah
kepada pengurus PPNJ, tanggal 11 Nop 2012, membuat saya tergerak menuangkannya
secara tertulis dengan harapan tidak mudah lupa dengan kata hikmah yang
akhir-akhir ini jumlahnya semakin banyak tapi pengaruhnya semakin hilang,
lebih-lebih kata itu memang berasal dari insan pilihan yang tingkat kelayakan
meneladaninya sudah tidak diragukan lagi.
Kira-kira begini kalimatnya…
“Kamu ini yang penting rajin dalam mengabdi
pada agama, mengajar para santri. Asalkan itu dilakukan dengan penuh
keikhlasan, maka kamu tak perlu
khawatir, Allah pasti akan memudahkan urusan keduniaanmu”
Nah, kawan… tibalah saatnya kita renungkan,
mungkinkah kita dapat mengamalkan pesan Alm. Pendiri di bawah ini dengan baik?
Dari sisi figur, beliau tidak diragukan lagi, banyak para ulama’ yang
memberikan kesaksian terhadap kewaliannya. Tinggal sekarang dorongan internal
diri kita, masih kuatkah? Atau bahkan sudah tak ada lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar