SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Selasa, 11 Desember 2012

MENYAMBUT MASALAH DENGAN BASMALAH


MASALAH DAN SOLUSINYA; Sebuah Optik Besaran
Masalah, para ahli memandangnya sebagai suatu kesenjangan (ketidakpaduan) antara kenyataan dan tujuan. Oleh sebab itu, masalah adalah sesuatu yang harus sesegera mungkin dapat dipecahkan untuk menyelaraskan kembali antara kenyataan dan tujuan.
Apabila suatu kenyataan (yang kita hadapi saat ini) sudah padu dengan tujuan (di masa mendatang), berarti kita tidak dalam posisi ‘bermasalah’, namun sebaliknya apabila dua hal itu bertolak belakang berarti kita sedang dalam posisi ‘bermasalah’.
Misal; kita ingin memetik buah mangga, sementara buah mangga itu masih bertandan di pohonnya lebih tinggi 2m dari tinggi badan kita, maka kita perlu galah atau bahkan tangga agar jangkauan tangan kita bisa secara mudah menggapai mangga itu, setelah itu mangga dapat kita petik dan kita nikmati.
Dalam tamtsil di atas, dapat ditarik rumusan bahwa (M = T – N). M = Masalah, T = Tujuan, N = Kenyataan.
Keterangan;
T = memetik buah mangga
N = jangkauan tangan kita yang tidak sampai
Sementara solusi (jalan keluar) dari masalah itu baru dapat muncul setelah akar dari permasalahan diketahui. Seperti dalam contoh di atas, masalahnya adalah ‘tidak sampainya tangan kita pada mangga yang ingin kita petik’, nah, ketika (sumber masalah) ini diketahui, maka akan banyak sekali bermunculan tawaran-tawaran solusi yang dapat kita tempuh, bisa dengan menggunakan galah, tangga, tali atau bahkan melempari mangga itu hingga jatuh.
Sebaliknya, kita tidak akan pernah menemukan jalan keluar yang proporsional apabila akar dari permasalahan itu tidak dapat kita ketahui, lebih-lebih kita tidak dapat membedakan mana tujuan mana kenyataan.
Ketidak paduan kenyataan dan tujuan, memang dua hal yang pasti mewarnai kehidupan manusia, siapapun dia!. Seorang ilmuan, politisi, organisator, pejabat, bahkan nabi pun pernah mengalaminya. Seorang ilmuan selalu akan didatangi masalah sesuai bidang keilmuannya, politisi selalu rumit dengan strateginya sendiri, organisator sibuk mencari solusi dari semakin jauhnya mereka dengan visi keorganisasiannya, begitu juga nabi yang pernah dibingungkan dengan tantangan quraisy yang notabene mereka adalah kerabatnya sendiri.
Oleh sebab itu, jangan pernah berpikir untuk menjauh dari masalah karena masalah itu hanya sebatas batu loncatan menuju tujuan agung kehidupan kita. Tapi juga sebaliknya, jangan mencari-cari masalah, biarkan ia datang sendiri sebagai sajian hangat yang harus kita nikmati. Sebab Allah sudah menegaskan;
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين
Artinya; :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.(al-Baqarah, 286)
Dalam tulisan ini, penulis menggolongongkan masalah dalah dua hal; pribadi dan kelompok/organisasi.
MASALAH PRIBADI; Trend Penyelesaiannya Adalah Dengan Bunuh Diri
Dewasa ini, ‘nyaris’terdapat pemahaman bahwa bunuh diri adalah cara paling praktis dalam menyelesaikan masalah, yang rata-rata masalah itu adalah masalah pribadi. Misalnya; terlilit hutang yang menggunung, frustasi karena prestasi menurun, merasa tertekan dengan keadaan, malu bertemu orang lain karena harga dirinya merasa hancur, dll.
Kondidi-kondisi itu mengakibatkan sebagian orang memilih mengahiri hidupnya daripada berusaha menyicil lunas hutangnya, memperbaiki prestasinya, bangkit dari keadaan yang menekan atau mencari solusi lain yang lebih rasional.
Ironis sekali kalau kita kaji beberapa fenomena tentang ‘budaya’ bunuh diri ini, baik di tingkat dunia atau di tingkat pesantren sekalipun. Di tingkat dunia, setidaknya terdapat 7 fakta tentang bunuh diri ini;
1.        Satu juta orang di dunia per tahun melakukan bunuh diri. Artinya satu kematian setiap 40 detik. Kasus bunuh diri meningkat sebanyak 60% di 45 tahun terakhir.
2.        Bunuh diri adalah penyebab kematian kesebelas terbanyak di Amerika sekaligus penyebab kematian kedua untuk orang berumur 25-34 tahun. Ada 91 kasus bunuh diri setiap hari. Berarti satu kasus setiap 16 menit.
3.        Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Pada 2009, lebih dari 30.000 orang bunuh diri. Alasan untuk bunuh diri di Jepang antara lain karena pengangguran, tekanan sosial dan depresi. 70% dari pelaku bunuh diri adalah pria. Bunuh diri adalah penyebab kematian pertama untuk umur dibawah 30 tahun. Lompat di depan kereta menjadi cara populer untuk bunuh diri di Jepang. Biaya kerusakan dan kecelakaan kereta ditanggung keluarga korban. Hotline bunuh diri di jepang mulai menerima lebih dari 1.300 laporan per minggu.
4.        Diperkirakan dari 12 hingga 25 usaha kasus bunuh diri, hanya satu yang berhasil. Di Amerika, 33.000 orang bunuh diri setiap tahun, artinya ada 825.000 orang yang mencobanya.
5.        Bunuh diri adalah penyebab kematian terbanyak ketujuh untuk pria, dan keenambelas untuk wanita. Tiga dari empat kasus bunuh diri dilakukan pria. Tiga dari kasus bunuh diri karena racun adalah wanita.
6.        Dalam skala per 100.000, tingkat bunuh diri orang Amerika asli adalah 15,1; orang kulit putih 13,9; orang kulit hitam 5 dan orang spanyol 4,9.
7.        Lebih dari 90% orang yang melakukan bunuh diri menderita kelainan mental atau pengguna narkoba. Sepertiga dari pelaku bunuh diri mengkonsumsi alkohol.
Tidak hanya itu, masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu lalu terdapat salah satu saudara kita di pesantren ini yang mencoba untuk bunuh diri dengan memotong urat nadi, ada juga yang mencoba minum molto, dll.
Setidaknya, sebagai pelajar yang hidup di pesantren, kita dapat berpegang teguh pada ayat yang telah ditulis di atas. Ayat di atas jika dipahami, akan membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa tak ada masalah yang perlu ditakutkan di dudia ini, karena pada prinsipnya masalah yang dibebankan kepada kita oleh Allah adalah masalah yang sesuai dengan kadar kekuatan kita dalam memecahkannya.
Tak satu pun masalah itu datang melebihi kadar kemampuan kita memikulnya, asal kita hadapi dengan lapang dada dan sambil lalu dicarikan pemecahannya melalui cara-cara yang digariskan dalam Islam, tentu masalah itu betul-betul akan menjadi batu loncatan diri kita menuju grid kehidupan yang lebih tinggi, masalah itu akan membawa hikmah yang tak pernah terkirakan sebelumnya.
Lebih dari itu, ayat di atas menyeru kepada kita untuk selalu memohon pertolongan dan petunjuk kepada Allah agar dalam menghadapi masalah senantiasa kita mampu menghadapinya.
Pemahaman ini selayaknya kita jadikan prinsip dasar dalam menghadapi persoalan, yaitu selalu memohon perlindungan kepada Allah, meyakini bahwa apa yang kita hadapi adalah sebuah skenario agung Tuhan yang tak pernah terpikirkan dalam diri kita sebelumnya dan mencari solusi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. tiga hal yang akan menjadi kunci kesuksesan dalam ‘problem solving’.
MASALAH DALAM ORGANISASI DAN PENYELESAIANNYA
Joe Kelly dalam bukunya, Organizational behavior menegaskan bahwa terdapat dua komponen pokok dalam setiap organisasi, pertama individu-individu yang berprilaku, kedua organisasi sebagai wadah dari prilaku-prilaku itu.
Setidaknya terdapat dua pemahaman dari apa yang dikatakan Kelly, pertama untuk menunjukkan bahwa prilaku individu yang hidup di dalam organisasi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari proses tercapainya tujuan organisasi itu sendiri. Kedua, organisasi sebagai wadah dari prilaku-prilaku yang tidak sama (hederogen) yang memungkinkan rentannya terhadap konflik.
Prilaku yang berbeda-beda pada masing-masing individu dalam satu organisasi itu menjadi tugas pimpinan organisasi untuk sedapatnya dikemas dan diarahkan pada satu misi besar organisasi. Apabila perbedaan itu mampu dipahami bersama sebagai sebuah keniscayaan maka berjalannya organisasi dalam mencapai tujuan akan semakin mudah, sebaliknya manakala perbedaan itu dipandang sebagai ‘masalah’ maka organisasi hanya akan berjalan ditempat dan mandul.
Dalam sebuah organisasi, seringkali kita temui adanya perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan, konflik antar anggota, dan bahkan dalam skala yang lebih besar, organisasi sering juga mengalami kondisi yang tak menguntungkan, misalnya adanya hambatan dalam menjalankan kegiatan, tindakan dari luar yang mengancam keberlangsungan organisasi, kebingungan pada arah tujuan, kegagalan merealisasikan suatu program yang telah disusun, molornya pekerjaan dan masih banyak lagi yang jauh lebih menantang dari kondisi-kondisi tersebut.
 Semua contoh di atas, ibarat kanker yang membutuhkan penanganan segera, apabila dibiarkan semakin lama, maka penyakit itu akan semakin kronis mengakar dan mematikan bahkan organ-organ lain.
Setidaknya ada dua tingkatan masalah yang tak henti-hentinya menyerang tubuh organisasi, baik masalah yang berdifat internal maupun eksternal; pertama masalah yang sederhana (simple problem), kedua masalah yang besar/rumit (complex problem).
Simple problem, dapat diartikan pula dengan masalah kecil yang penyelesaiannya mudah dan tidak membutuhkan perenungan yang mendalam, ciri-ciri masalah ini antara lain;
1.      skalanya kecil,
2.      berdiri sendiri atau tidak terlalu berpengaruh pada bagian lain dari organisasi,
3.      konsekuensi dari munculnya masalah ini berdampak kecil, dan
4.      dapat juga digolongkan dalam ciri masalah sederhana yaitu jenis masalah yang datang secara rutin, misalkan fluktuatifnya semangat kerja anggota, dll.
Pemecahan yang dapat dilakukan pada masalah ini pun juga cenderung lebih mudah, biasanya seorang pimpinan dapat secara langsung menyikapi dan memberikan solusi pada masing-masing masalah yang bercirikan salah satu dari empat hal di atas, dengan berdasarkan pada intuisi, pengalaman dan wewenang yang melekat pada diri seorang pemimpin. Namun, karena masing-masing masalah itu tentu berbeda kebutuhan penyelesaiannya, maka disinilah pentingnya peran pemimpin yang kreatif dalam mencari solusi persuasif.
Karena betapapun kecilnya skala masalah yang datang, apabila penyelesaiannya tidak tepat maka tidak menutup kemungkinan sebuah solusi yang diberikan justeru akan memperkeruh iklim organisasi dan selanjutnya saolusi itu akan menjelma menjadi masalah baru yang kemudian pada gilirannya dapat menaikkan status simple problem menjadi complex problem.
Complex problem adalah kebalikan dari simple problem yaitu masalah besar/rumit yang dapat dicirikan sebagai berikut;
1.      sekala masalahnya besar,
2.      tidak berdiri sendiri, artinya masalah ini ada kaitannya dengan masalah-masalah lain atau dilakukan oleh lebih dari satu bagian,
3.      masalah ini dapat menimbulkan pengaruh besar terhadap tercapainya tujuan organisasi, dan
4.      masalah-masalah lain yang suddenly came, artinya masalah itu datang secara tiba-tiba dan belum pernah dialami sebelumnya.
Pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah yang rumit ini, biasanya dilakukan secara kelompok, dapat dikemas melalui rapat resmi atau melalui rembuk kecil antar anggota. Dengan demikian beban seorang pemimpin dapat terkurangi, sebab, seberapa pelik masalah itu kalau dipecahkan bersama-sama maka resikonya semakin kecil, dengan kata lain, seorang pemimpin tak lagi risau dengan langkah-langkah organisasi yang ditempuh karena keputusan penyelesaiannya sudah dilakukan secara bersama-sama.
5 PENYAKIT “DIS” PADA ORGANISASI
Lima penyakit ini penulis sadur dari berbagai pengalaman dan fenomena yang terjadi, baik yang pernah dialami sendiri oleh penulis atau pun dari berbagai refrensi sejarah yang mengarah pada kesimpulan ini. 5 penyakit ini adalah;
1.      Dis Harmoni; yaitu kurang harmonisnya masing-masing anggota, satu sama lain saling sikut berebut menang, baik dalam tindakan sehari-hari ataupun dalam forum diskusi/rapat organisasi. Masing-masing anggota bergerak sesuai keyakinannya sendiri tanpa mempersoalkan tercapai atau tidaknya misi/tujuan dari organisasi. pada keadaan ini, masing-masing anggota membawa kepentingan pribadinya  dan selanjutnya dikemas seolah-olah menjadi kepentingan organisasi. Apabila penyakit pertama ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan muncul penyakit “dis” berikutnya,
2.      Dis Orientasi; adalah kegamangan organisasi dalam menentukan arah tujuan, organisasi sudah tak lagi jelas mau dibawa kemana. Visi dan misi organisasi hanya menjadi hafal-hafalan dan bahkan penghias dinding kantor tanpa adanya penghayatan dari masing-masing anggotanya.
3.      Dis Trust; ketika penyakit kedua tadi dibiarkan, maka akan muncul penyakit dis trust, yaitu ketidakpercayaan orang lain terhadap keberadaan organisasi tersebut. Apapun yang dilakukan organisasi ini, hanya akan dianggap sebagai celotehan yang tidak ada artinya, walau benar sekalipun.
4.      Dis Obey; yaitu ketidak patuhan dan pembangkangan. Penyakit ini akan datang menyusul ketidakpercayaan terhadap organisasi. Apapun yang dikeluarkan oleh organisasi baik berupa aturan, larangan atau himbauan sekalipun, tak ada lagi yang merespon.
5.      Dis Integrasi; apabila 4 penyakit di atas sudah akut dan kronis, maka datang penyakit yang terhir; kematian!, di sini, organisasi sudah sulit diselamatkan dan  kemungkinan bubarnya semakin tinggi.
SELF STRONG ATAU STRONG LEADERSHIP; Sebuah Kebutuhan Dasar
Pribadi dan kepemimpinan yang kuat adalah suatu kebutuhan dasar dalam menggapai harapan, baik cita-cita pribadi atau cita-cita organisasi. Pribadi yang kuat menjadikan seseorang tidak mudah putus asa, patah semangat dalam menghadapi cobaan sebesar apapun.
Self Strong
Pribadi yang kuat dapat tercermin dari hadits nabi di bawah ini;
   الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya;
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)
Dari hadits di atas, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat kita petik; yaitu, selalu bersemangat, selalu memohon pertolongan Allah dan dalam menghadapi kehidupan tidak hanya berkutat pada pengandaian. Inilah cerminan orang mu’min yang kuat yang akan selalu dicintai oleh Allah.
Di sisi lain, ada beberapa tips dalam menyikapi masalah;
1.  yakinkan anda sanggup menyelesaikannya, (seperti tercermin dari potongan surat al-Baqarah yang penulis kutip di atas).
2.  yakinkan, bahwa cobaan yang datang bukan berarti Allah benci kepada kita, seperti dibuktikan dalam potongan Surat ad-Dhuha di bawah ini (QS. 93:3).
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا َقَلى
3.  selalu tenang, karena kemudahan akan datang; (QS. 94:5-6)
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا --  إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
4.  sabar dan perbanyaklah shalat, dan Rasulullah setiap kali mendapat kesulitan beliau segera melakukan shalat; (QS. Al-Baqarah: 153)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
5.  bantulah orang lain keluar dari kesulitannya, maka kita akan dimudahkan oleh Allah keluar dari kesulitan yang melilit kita; sebagaimana dalam potongan ayat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di bawah ini;
مَنْ نَفَسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَ نَفَّسَ اللهُ عَنْ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
6.  dan banyak solusi-solusi lain yang dengan mudah dapat kita temukan dalam hadits dan al-Qur’an.
Strong Leadership
Strong leadership berarti kepemimpinan yang kuat, yaitu kepemimpinan yang mampu mengemban dan membawa kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
Kepemimpinan yang kuat dapan terbentuk melalui dua faktor; pertama pemimpinnya memiliki integritas yang tinggi, sehingga sikapnya mampu mempengaruhi anggota di bawahnya. Kedua, dukungan dari anggotanya memadai, sewibawa apapun seorang pemimpin, secerdas apapun intelejensinya, bahkan sekreatif apapun emosionalnya tanpa adanya dukungan dari anggota yang lain, semua itu akan menjadi bombabtis, omongkosong!. Tujuan organisasi tetap tidak akan diraih.
Pendiri partai HANURA, Wiranto, SH., MM. Mencatat dalam tulisannya, bahwa setidaknya terdapat 4 sifat yang dapat dikembangkan menjadi strong leadership. 4 sifat itu beliau sebut dengan ‘kepribadian STMJ’;
1.      Sadar bahwa pemimpin mengemban amanah
2.      Tahu apa yang menjadi harapan dan keinginan Organisasi
3.      Mau dan mampu untuk mewujudkan harapan-harapan Organisasi
4. Jamin bahwa jabatan apa pun sejatinya hanyalah untuk pengabdian dan perjuangan

PENUTUP
Dari uraian di atas, semoga kita mampu menjalankan amanah yang terkandung di dalamnya, berjalan di dalam ridlo dan pertolongan Allah.
Ahirnya, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini, serta mohon saran agar tulisan ini dapat dilakukan perbaikan.

Selamat Mencoba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar