SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI, PEMULUNG BERBAGAI SISI POSITIF KEHIDUPAN, AMIN

Kamis, 13 Desember 2012

WILAYAH K dan SHALAT BERJAMAAH


Empat hari yang lalu, tepatnya malam selasa, tanggal 10 Desember 2012, saya mengikuti taushiyah (pengarahan) dari direktur Pusat Pembinaan Ilmu al-Qur’an (PPIQ) PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH. Hefni Mahfudz.
Dalam kesempatan itu, beliau mengangkat pentingnya shalat berjamaah sebagai pokok materi dari
pengarahan yang diadakan dalam rangka pelantikan pengurus putra Wilayah Zaid Bin Tsabit (K) periode 2012 – 2014.
“Di wilayah ini, saya jadikan shalat jamaah sebagai program utama yang harus diikuti oleh semua santri, tak ada senior, tak ada junior, semuanya harus mengikuti program ini. Bahkan pengurus harus ada di shaf (barisan) terdepan dalam melaksanakan program ini” kata beliau yang juga merangkap sebagai pemangku/pembina Wilayah Zaid Bin Tsabit PP. Nurul Jadid ini.
Menurut Kiai yang juga dikenal sebagai al-Hafidz ini, shalat berjamaah apabila dilakukan secara istiqomah, maka – insyaallah – semua urusannya akan menjadi mudah, termasuk dalam menggapai cita-cita. “ini adalah kesimpulan dari renungan yang saya lakukan sejak lama” kata beliau, tegas dan meyakinkan semua yang hadir.
Untuk menguatkan pendapatnya, beliau menyampaikan beberapa ayat al-Quran sebagai dasar dari lahirnya kesimpulan di atas. Ayat kedua dari surat al-Baqarah beliau kemukakan paling awal.
“itu (al-Qur’an) adalah kitab pedoman yang tak dapat diragukan, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada hal-hal yang ghaib dan mendirikan shalat dan bersedekah” kurang lebih begitu terjemahan dari ayat yang beliau bacakan. Menurut beliau, yang dimaksud mendirikan shalat dalam ayat itu adalah melaksanakan shalat secara sempurna, termasuk melaksanakannya secara bersama-sama; berjamaah.
Kemudian, beliau juga menyampaikan beberapa ayat lain yang mengkaitkan hubungan orang yang bertakwa (muttaqun) dengan orang yang mendirikan shalat. kemudian beliau menarik kesimpulan dengan berdasar pada QS. al-A’raf: 96 yang artinya, “Andaikan penduduk negeri beriman dan bertakwa, tentu Kami (Allah) bukakan untuk mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi”.
Terkait dengan ditetapkannya shalat jama’ah sebagai program kegiatan utama di Wilayah itu, beliau memiliki pengalaman lain. Pengalaman yang menurut beliau merupakan lanjutan dari berbagai renungan yang beliau lakukan ini adalah tafsir lain dari al-Muttaqun yang disampaikan oleh alm. KH. Hasyim Zaini yang datang kepada beliau melalui mimpi.
Ceritanya, Dalam mimpi itu, Kiai Hefni seperti berada di dalam mobil bersama Kiai Hasyim, kemudian Kiai Hasyim dalam mimpi itu berdauh, “sungguh beruntung orang yang bertakwa” kalimat ini didauhkan dengan bahasa arab. Kiai Hefni diam menyimak dedauh Kiai Hasyim berikutnya. “Mon can engkok, al-Muttaqun reyah al-Mulazimun, oreng se Istiqomah”, kata Kiai Hefni menirukan dauh Kiai Hasyim dalam mimpi itu. Kalimat terahir itu didauhkan Kiai Hasyim dengan menggunakan bahasa madura, kurang lebih terjemahan Indonesianya begini, “kalau menurut saya, al-Muttaqun itu artinya al-Mulazimun, yaitu orang-orang yang istiqamah”.
Berdasar mimpi itu, kemudian beliau berkesimpulan bahwa, shalat jamaah ini harus terkawal secara maksimal dan terorganisir, selanjutnya beliau meng-include-kan shalat jamaah ke dalam program kerja organisasi Wilayah Zaid Bin Tsabit yang tak lain adalah Wilayah binaannya.
Semoga kita diberi perlindungan oleh Allah serta diberi kemampuan untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan lebih istiqamah, Amin...

2 komentar:

  1. Shalat berjamaah, lalu bagaimana dengan kita?
    Istoqomah, lalu bagaimana dengan kita?
    muttaqien, lalu bagaimana dengan kita?
    lalu bagaimana dengan kita?

    BalasHapus
  2. selalu ada makhluk lain dalam diri kita, membawa kepentingan lain. di saat niatan sudah matang, kometmen sudah sempurna, langkah mulai nyata, ia datang menjelma jibril, membawa asupan ayat dusta; nafsuku dibuatnya menjadi penguasa. Tuhan, kuatkan kami menjinakkannya...

    BalasHapus