Empat hari yang lalu, tepatnya
malam selasa, tanggal 10 Desember 2012, saya mengikuti taushiyah (pengarahan)
dari direktur Pusat Pembinaan Ilmu al-Qur’an (PPIQ) PP. Nurul Jadid Paiton
Probolinggo, KH. Hefni Mahfudz.
Dalam kesempatan itu, beliau
mengangkat pentingnya shalat berjamaah sebagai pokok materi dari
pengarahan
yang diadakan dalam rangka pelantikan pengurus putra Wilayah Zaid Bin Tsabit (K)
periode 2012 – 2014.
“Di wilayah ini, saya jadikan
shalat jamaah sebagai program utama yang harus diikuti oleh semua santri, tak
ada senior, tak ada junior, semuanya harus mengikuti program ini. Bahkan pengurus
harus ada di shaf (barisan) terdepan dalam melaksanakan program ini” kata
beliau yang juga merangkap sebagai pemangku/pembina Wilayah Zaid Bin Tsabit PP.
Nurul Jadid ini.
Menurut Kiai yang juga dikenal
sebagai al-Hafidz ini, shalat berjamaah apabila dilakukan secara istiqomah,
maka – insyaallah – semua urusannya akan menjadi mudah, termasuk dalam
menggapai cita-cita. “ini adalah kesimpulan dari renungan yang saya lakukan
sejak lama” kata beliau, tegas dan meyakinkan semua yang hadir.
Untuk menguatkan pendapatnya,
beliau menyampaikan beberapa ayat al-Quran sebagai dasar dari lahirnya
kesimpulan di atas. Ayat kedua dari surat al-Baqarah beliau kemukakan paling
awal.
“itu (al-Qur’an) adalah kitab
pedoman yang tak dapat diragukan, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
yaitu orang-orang yang beriman kepada hal-hal yang ghaib dan mendirikan shalat
dan bersedekah” kurang lebih begitu terjemahan dari ayat yang beliau bacakan. Menurut
beliau, yang dimaksud mendirikan shalat dalam ayat itu adalah melaksanakan
shalat secara sempurna, termasuk melaksanakannya secara bersama-sama;
berjamaah.
Kemudian, beliau juga
menyampaikan beberapa ayat lain yang mengkaitkan hubungan orang yang bertakwa (muttaqun)
dengan orang yang mendirikan shalat. kemudian beliau menarik kesimpulan dengan
berdasar pada QS. al-A’raf: 96 yang artinya, “Andaikan penduduk negeri beriman
dan bertakwa, tentu Kami (Allah) bukakan untuk mereka pintu-pintu keberkahan
dari langit dan bumi”.
Terkait dengan ditetapkannya
shalat jama’ah sebagai program kegiatan utama di Wilayah itu, beliau memiliki
pengalaman lain. Pengalaman yang menurut beliau merupakan lanjutan dari
berbagai renungan yang beliau lakukan ini adalah tafsir lain dari al-Muttaqun
yang disampaikan oleh alm. KH. Hasyim Zaini yang datang kepada beliau melalui
mimpi.
Ceritanya, Dalam mimpi itu, Kiai
Hefni seperti berada di dalam mobil bersama Kiai Hasyim, kemudian Kiai Hasyim dalam
mimpi itu berdauh, “sungguh beruntung orang yang bertakwa” kalimat ini didauhkan
dengan bahasa arab. Kiai Hefni diam menyimak dedauh Kiai Hasyim berikutnya. “Mon
can engkok, al-Muttaqun reyah al-Mulazimun, oreng se Istiqomah”, kata Kiai
Hefni menirukan dauh Kiai Hasyim dalam mimpi itu. Kalimat terahir itu didauhkan
Kiai Hasyim dengan menggunakan bahasa madura, kurang lebih terjemahan
Indonesianya begini, “kalau menurut saya, al-Muttaqun itu artinya al-Mulazimun,
yaitu orang-orang yang istiqamah”.
Berdasar mimpi itu, kemudian
beliau berkesimpulan bahwa, shalat jamaah ini harus terkawal secara maksimal
dan terorganisir, selanjutnya beliau meng-include-kan shalat jamaah ke
dalam program kerja organisasi Wilayah Zaid Bin Tsabit yang tak lain adalah
Wilayah binaannya.
Semoga kita diberi perlindungan
oleh Allah serta diberi kemampuan untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan
lebih istiqamah, Amin...

Shalat berjamaah, lalu bagaimana dengan kita?
BalasHapusIstoqomah, lalu bagaimana dengan kita?
muttaqien, lalu bagaimana dengan kita?
lalu bagaimana dengan kita?
selalu ada makhluk lain dalam diri kita, membawa kepentingan lain. di saat niatan sudah matang, kometmen sudah sempurna, langkah mulai nyata, ia datang menjelma jibril, membawa asupan ayat dusta; nafsuku dibuatnya menjadi penguasa. Tuhan, kuatkan kami menjinakkannya...
BalasHapus