Bagi anda yang bertempat tinggal
di Probolinggo, Kota atau Kabupaten,
mungkin anda pernah mendengar cerita-cerita tentang RSUD Waluyo Jati Kraksaan.
Gedungnya lumayan mentereng, kalau pagi bersih, tapi sore sampai malam sudah
mulai terlihat kotor. Nyaris disemua sudut Rumah Sakit itu ada kepulan rokok
pengunjung yang bebas merokok tanpa ada teguran dari pihak Rumah Sakit, bahkan
sesekali anda akan menyaksikan perawat yang secara sembunyi-sembunyi menghisap
rokok di ruang kerjanya. Rumah Sakit ini terletak di sekitar 300 miter
keselatan Gedung Olah Raga (GOR) Kraksaan.
Juga bagi anda yang berasal dari Kraksaan dan sekitarnya, mungkin anda
pernah kesana, atau bahkan anda pernah sakit dan dirawat disana. Bagaimana
kesan pertama anda ketika mendapat perawatan di Rumah Sakit itu???
Rumah Sakit Daerah dengan jam kontrol dari dokter cukup sekali dalam 24 jam, itupun kurang lebih tiga menit komunikasi dengan pasien. Selebihnya diserahkan pada perawat-perawat yang rata-rata berasal dari tenaga magang (mahasiswa) kampus-kampus kesehatan di daerah itu.
Rumah Sakit Daerah dengan jam kontrol dari dokter cukup sekali dalam 24 jam, itupun kurang lebih tiga menit komunikasi dengan pasien. Selebihnya diserahkan pada perawat-perawat yang rata-rata berasal dari tenaga magang (mahasiswa) kampus-kampus kesehatan di daerah itu.
Seminggu yang lalu, saya menemani teman yang kecelakaan di ruang utama
kelas satu, di Rumah Sakit itu, setelah sebelumnya hampir empat jam di ruang
IGD. Teman saya mengalami pendarahan di hidung, disertai dengan bibir bawahnya
pecah dan mendapat jahitan satu, sementara bibir atasnya mendapat dua jahitan. Sekitar jam sebelas siang, teman saya itu
dipindah ke kamar yang telah kami pilih, kelas satu.
Kedengarannya agak keren, KELAS SATU, sebagaimana terpampang juga di setiap
pintu-pintu kamar. Kami memilihkan kamar itu dengan harapan mendapat pelayanan
maksimal, karena kalau melihat namanya, kelas itu satu tingkat dibawah kelas
VIP.
Malam pertama sekitar jam tujuh, darah dari hidung teman itu keluar lagi,
saya hawatir dan sedikit panik. Langsung saja kami memanggil perawat yang
kebetulan piket pada malam itu. “darahnya keluar lagi mbak!” kataku pada
perawat-perawat itu. Spontan para perawat sibuk mencari kassa dan saya langsung
kembali ke ruangan. “ini kassanya!” seorang perawat memberi saya kassa dan
langsung keluar dari ruangan, seolah-olah menyuruh saya membersihkan sendiri
darah yang sudah membanjiri hidung teman saya.
Sekitar jam delapan, malam itu juga, saya berencana mengkompres muka teman
saya yang sudah mulai terlihat bengkak. Saya mendatangi ruang jaga perawat
lagi. “mbak, teman saya itu tak perlu di kompres? Bengkaknya sudah mulai
terlihat” kataku. Anda tahu saya mendapat jawaban apa? “iya sudah mas, kalau
mau dikompres, kompres saja. Disini tidak ada alatnya” bukan hanya karena redaksi
jawabannya yang membuat saya jengkel, gaya menjawabnya juga tak ubahnya gaya
politisi yang menolak lobi-lobi orang kecil. Ya, perawat itu menjawab sambil
tetap fokus pada televisi di depannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah saya.
“disini ada air hangat ya mbak?” tanyaku. “kamu bisa beli di warung-warung di
luar. Disini nggak ada mas!”, jawabnya dengan tak merubah sedikitpun
gaya jawaban pertamanya.
Satu lagi! di pagi harinya, teman
saya mendapat jatah sarapan, sepiring nasi dan lauk pauknya. Ketika saya bilang
bahwa teman saya belum bisa makan nasi, karena bibirnya belum bisa bergerak
lebar, sekaligus saya minta diganti bubur saja. “jatah untuk pasien ini memang
nasi mas, bukan bubur” kata perawat yang mengantar makanan itu. “kalau
pasiennya tak bisa makan nasi, dimakan sama yang jaga juga gak apa-apa!”
lanjutnya sambil terburu-buru keluar ruangan. Entah logika mana yang dipakai
sampai harus keluar saran itu, padahal saya dan teman-teman lain yang ikut
menjaga, dalam kondisi puasa.
Mungkin RSUD itu merindukan
pemimpin yang sangar seperti sayyidina hamzah, agar dapat menegakkan
aturan-aturan yang berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar